SECERCAH HATI
meletakan risau yang menggunung pun tak tahu, kemana hendak di rebahkan raga yang lelah? Kemana hendak di teduhkan jiwa yang penuh bara membara, Di setiap jejak yang di tinggalkan, goresan luka tak mau mengering di terpa angan, rasa nyeri jelas tergambar di tanah gersang, tetes air mata menempel di pucuk dedaunan. "Aku harus bagaimana menyudahi takdir?" Keluhnya suatu saat kepada angin ia meratap.
Aku masih sendiri dan mungkin akan selalu sendiri. Aku terlalu terbiasa untuk menyendiri, sampai lupa bagaimana rasanya melakukan kegiatan bersama orang lain. Sampai lupa bagaimana cara bertegur sapa dengan orang lain. Namun, aku masih bisa menikmati hal ini. Menikmati hal yang mungkin bagi sebagian orang tak dapat mereka nikmati.
Aku tak mengerti bagaimana awal dari semua ini. Yang kutahu, dulu aku hanya tak begitu menyukai keramaian. Hal itu berujung dengan aku mencoba menarik diri saat aku berada di keramaian.
Pada akhirnya aku sadar aku menyukai sepi. Sepi yang membuatku bisa merefleksikan diri. Sepi yang membuatku bisa belajar tentang manusia dengan mengamati tiap gerak-geriknya. Sepi yang membuatku bisa lebih memahami bagaimana cara Tuhan mengatur kehidupan ini. Bagaimana cara Tuhan membuat garis-garis takdir dan jalan dari tiap manusia yang berbeda-beda. Aku menyukai itu semua.
Sayang rasa suka itu terlalu berlarut-larut bagiku. Aku sampai tak tahu bagaimana caraku untuk kembali. Terkadang ingin rasanya bagiku memulai suatu hal yang baru, namun begitu sulit. Ingin aku mencoba keluar dari zona nyamanku, tapi takut. Ya, aku takut jikalau aku tak bisa menyatu dengan ramai itu.
Orang lain takkan tahu mengapa aku terus menyendiri. Yang mereka tahu hanya aku yang pendiam, yang tidak asyik, yang tidak bisa diajak ngobrol, yang kaku. Padahal sesungguhnya aku hanya takut bila mereka tak suka dengan diriku yang menyukai sepi ini.
Lelah tak pernah berujung bahagia, namun memuncak menggetar rongga tulang belulang yang begitu sakit disaat derita menyapa tanpa bergemah, tidak tahu pasti kapan memulainya kapan berakhirnya, tapi begitu datang tanpa katapun sepi menerpa menampar hati yang begitu sepi.
Nikmati kesendirian tanpa berkeluh kesah, ia akan pergi tanpa sekatapun, meski kebahagian hanya secarcik derita yang sudah lama bersarang dalam qalbu.


Komentar
Posting Komentar