LETIH



Berteman dengan gelap. Tenggelam dalam air mata yang meluap. Bagaimana mungkin aku terlelap, jika kenangan tentangmu tak mau lenyap?

Usai letih mencintai, bisakah seseorang ingin berhenti? 

Tiba-tiba hujan memenuhi dadaku dan aku tak lagi ingin tahu.

***

Malam ini, aku tak ingin lagi menghitung semua tangis pada selembar tisu.. Rupanya ingatan tak butuh angka untuk mengenali kehilangan yang pahit dan pilu. Hari ini, aku tahu mengapa selalu bertanya pada hal yang sama, meski sepasang mata telah jatuh begitu jauh ke dalamnya. Aku begitu mencintaimu, meski harus pergi dengan rela yang pura-pura. 

Kira-kira sudah berapa pelukan erat dan ciuman mesra yang harus kita akui bahwa kita memang tak akan pernah bisa meredakan semua sakit dengan cepat. Ternyata yang melekat pada kita hanyalah sisa-sisa hangat. Selebihnya tertinggal di atas sprei pucat, di dalam kamar mandi, di meja kedai kopi, sebagai aroma dan noda yang cepat-cepat harus diganti wangi semerbak agar tak lagi berjejak.

Pada akhirnya kita memaklumi orang-orang yang bersumpah lalu melanggar adalah hal yang biasa. Bukankah kita pun terbiasa mengucap janji tanpa menakar, lalu ingkar tanpa merasa bersalah? Maka beginilah kita hari ini, sepasang yang lelah dan patah-patah. Tak dapat ditemukan dalam sepatu kanan dan kirimu, karena kita telah jauh berbeda arah. 

Tentu saja semuanya masih lekat di-ingatanku. Kita mulai saling mencintai dengan bodoh dan tumbuhkan semua rasa dengan begitu nekat. Pada akhirnya, entah mengapa kemudian kau dan aku kian enggan mengalah meski hanya mundur selangkah sebelum terpisah. Dan lihatlah kita yang sekarang, sepasang nadir yang berakhir sebelum takdir. 

Demikianlah kita sekarang, terjebak pada lorong gelap yang kosong. Aku anak kecil ketakutan yang terus memanggil dan memohonmu kembali. Sedang kau terus membatu oleh cuaca dan enggan mendekat, sebab sudah terlalu letih mengulang kesedihan yang sama.

Komentar

Postingan Populer